SLEMAN – Anggota Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, Dr. Hardi Santosa, M.Pd., menegaskan bahwa kemajuan sekolah/madrasah Muhammadiyah sangat bergantung pada visi dan keberanian kepala sekolah dalam menghadapi perubahan.

Hal tersebut disampaikannya lewat materi bertajuk Visi Pendidikan Muhammadiyah: Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran yang Menyalakan Peradaban dalam kegiatan Diksuscakep 2026 yang digelar Majelis Dikdasmen & PNF PWM DIY, Selasa (28/7) di BPMP D.I Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, sosok yang juga menjabat Ketua Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling (MBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) itu menyebut bahwa kepala sekolah bukan sekadar pengelola administrasi, melainkan penjaga mutu pembelajaran dan pencetak kader pimpinan masa depan.

Ia menekankan, seorang leader yang hebat adalah mereka yang mampu melahirkan pimpinan-pimpinan baru serta berani membuka jalan inovasi demi memajukan peradaban dan pendidikan Persyarikatan

“Sekolah hebat selalu lahir dari kepala sekolah yang memiliki visi besar. Peran seorang leader sangat signifikan dalam menentukan ke arah mana sekolah dibawa.” ujarnya di depan ratusan calon kepala sekolah/madrasah Muhammadiyah se-DIY.

Ketika kepala sekolahnya visioner, lanjutnya, dan tidak mudah menyerah oleh tantangan, sekolah akan tumbuh dengan sangat cepat.

BACA JUGA Kawal Asta Cita Presiden, BBGTK DIY Dorong Inovasi Pelatihan Guru dan Deep Learning

Tantangan Kepemimpinan dan Kaderisasi

Mengutip pandangan pakar manajemen, Peter F. Drucker menilai bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak pengikut yang ia miliki hari ini, melainkan bagaimana ia mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang jauh lebih hebat ketika masa jabatannya usai.

“Muhammadiyah adalah organisasi kader; kesuksesan kita diukur dari seberapa mampu kita menciptakan penerus,” tekannya.

Ia mengkritik kebiasaan kepala sekolah yang terlalu sibuk dengan perannya sendiri tanpa memikirkan regenerasi, hingga sekolah kewalahan mencari pengganti saat masa jabatannya usai.

Melalui kegiatan ini, kata Hadri, Diksuscakep menjadi momentum strategis untuk membakar semangat kepemimpinan sekaligus mengukuhkan ideologi calon pimpinan sekolah/madrasah Muhammadiyah.

Menghadapi Era VUCA & BANI: Di Mana Ada Kemauan, Di Situ Membuat Jalan

Mengantisipasi perubahan lingkungan global yang berada dalam situasi Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) dan Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible (BANI), Hardi mengajak para kepala sekolah untuk mengubah pola pikir dari pasif-reaktif menjadi kreatif-inovatif.

BACA JUGA Jelang Visitasi, Dikdasmen PWM DIY Perkuat Kesiapan Akreditasi Sekolah di Sleman

Ia berpesan agar pimpinan sekolah tidak terjebak dalam budaya berkeluh kesah terkait ketatnya persaingan atau tantangan pendaftaran peserta didik baru.

“Ada peribahasa ‘di mana ada kemauan, di situ ada jalan’. Bagi seorang pemimpin pembawa perubahan di Muhammadiyah, saya tegaskan: di mana ada kemauan, di situ kita yang membuat jalan! Kita tidak boleh hanya menunggu jalan itu ada, tapi kita harus melangkah, membuka jalan, dan memastikan teman-teman serta murid-murid kita berjalan di jalur yang aman,” tegasnya.

Empat Hakikat Visi Pendirian Sekolah/Madrasah Muhammadiyah

Lebih lanjut, Hardi mengingatkan bahwa kehadiran sekolah/madrasah Muhammadiyah sejak awal bukan sekadar menghadirkan lembaga formal biasa, melainkan bertumpu pada empat hakikat visi utama.

Sekolah Muhammadiyah harus difungsikan secara konsisten sebagai pusat dakwah amar ma’ruf nahi munkar, pusat kaderisasi Persyarikatan dan bangsa, pusat tajdid atau pembaruan pendidikan, serta pusat lahirnya calon-calon pemimpin masa depan.

“Mengapa Muhammadiyah mendirikan sekolah? Inilah hakikat visi pendidikan kita: sekolah harus menjadi pusat dakwah, pusat kaderisasi, pusat tajdid, dan tempat lahirnya para pemimpin masa depan. Karena itu, sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya menghadirkan siswa yang pintar secara akademik semata,” terangnya.

Ia melanjutkan bahwa pimpinan sekolah wajib menyeimbangkan tiga ruang utama dalam pengelolaan sekolah. Pertama, ruang akademik yang menekankan mutu pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan (mind, meaning, and joyful).

Kedua, ruang karakter yang menanamkan akhlak Islam berkemajuan di atas kesadaran bermakna. Dan ketiga, ruang peradaban tempat ditempanya para kader umat dan bangsa.

Penjaga Mutu & Pahala Jariyah Kepemimpinan

Sebagai penjaga mutu, kepala sekolah bertugas memastikan seluruh ekosistem sekolah berjalan harmonis dengan rutin membimbing guru, melakukan supervisi pembelajaran, membangun budaya refleksi, serta memastikan setiap murid mendapatkan hak belajar secara optimal tanpa terkecuali.

Hardi menutup pemaparannya dengan mengajak para calon kepala sekolah melakukan refleksi mendalam mengenai warisan kepemimpinan yang akan mereka tinggalkan di masa mendatang.

“Coba bayangkan 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Ketika lahir dokter hebat, ilmuwan ternama, ulama karismatik, pengusaha dermawan, atau politisi negarawan yang jujur, lalu mereka berkata, ‘Saya menjadi seperti ini karena dulu bersekolah di Muhammadiyah’. Saat itulah bapak dan ibu kepala sekolah memanen pahala jariyah dari kepemimpinan yang Anda jalankan hari ini,” pungkasnya.