YogyakartaMajelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PWM DIY menggelar evaluasi implementasi penggunaan program kecerdasan buatan (AI) dan coding bersama Marshall Cavendish Education (MCE), Singapura.

Kegiatan evaluasi berlangsung di Aula PWM DIY pada Senin (20/4/2026) siang dan diikuti kepala sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK Muhammadiyah se-DIY yang telah bekerja sama dengan MCE.

Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, Achmad Muhamad mengatakan, kerja sama dengan MCE bukan sekadar menghadirkan program baru, tetapi menjadi bagian dari upaya percepatan transformasi pendidikan.

“Kerja sama ini bukan sekadar ucapan kehadiran, tetapi betul-betul harus maju ke depan. Kerjanya harus terukur dan langkah-langkahnya juga terukur, sehingga tahun ajaran baru nanti Majelis memperkenalkan sistem untuk mempercepat transformasi pendidikan Muhammadiyah,” jelasnya.

Achmad menekankan bahwa keberhasilan program sangat ditentukan oleh perubahan pola pikir seluruh unsur sekolah, terutama pimpinan sekolah dan guru. Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu dipandang sebagai kebutuhan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

“Sehebat apa pun instrumen yang Majelis sediakan, kalau tidak ada perubahan mindset, itu menjadi catatan utama. Pemanfaatan teknologi jangan sekadar formalitas, tetapi benar-benar untuk meningkatkan mutu pendidikan,” pesannya.

Berdasarkan hasil evaluasi, pemanfaatan akun program yang disediakan masih perlu ditingkatkan. Dari sekitar 1.000 akun yang tersedia, penggunaan aktif baru tercatat di delapan sekolah. “Ini tahun pertama kita bekerja sama, jadi wajar jika masih ada proses pengenalan dan pendampingan. Karena itu, kita terus meminta adanya pendampingan dari MCE agar pemanfaatannya bisa lebih maksimal,” ujarnya.

Achmad menambahkan, beberapa sekolah mulai menunjukkan perkembangan penggunaan yang positif. Di antaranya SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta yang tercatat memiliki 16 guru aktif sejak Januari, sementara sekolah lain juga mulai mengalami peningkatan.

“Kalau gurunya menggunakan, otomatis akan menggerakkan siswa. Karena itu penting bagi kita membangun kesadaran bersama agar kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Achmad juga menyampaikan rencana pemberian apresiasi kepada guru-guru paling aktif melalui skema mentor atau senior teacher yang nantinya mendampingi sekolah lain.

“Guru yang paling aktif akan kita jadikan senior teacher untuk menjadi mentor bagi sekolah-sekolah lain. Evaluasinya bisa dilakukan setiap empat bulan, sehingga akan muncul semangat berkompetisi dan terus berkembang,” ungkapnya.

Sementara itu, Tri Turturi Farah Meswari, Regional Director Southeast Asia, MCE menyampaikan bahwa tahun ini merupakan tahun pertama kerja sama resmi dengan sekolah Muhammadiyah DIY. Pihaknya membuka ruang evaluasi dan masukan dari sekolah guna menyempurnakan program pada tahun ajaran mendatang.

“Kami sudah melakukan beberapa catatan dari hasil kunjungan ke sekolah dan pengamatan terhadap penggunaan program kerja sama ini. Tentu masih banyak hal yang perlu kita tingkatkan dan evaluasi,” paparnya.

Dalam pemaparannya, MCE mencatat sejumlah tantangan yang dihadapi, di antaranya adaptasi guru terhadap teknologi, masih adanya siswa jenjang SD yang belum membawa perangkat belajar, serta perlunya pemetaan kesiapan sekolah dalam menjalankan program.

Selain itu, pendampingan dinilai perlu lebih intensif dan fleksibel menyesuaikan jadwal sekolah, sementara materi coding untuk jenjang SMA/SMK juga perlu diperdalam.

Menjawab hal tersebut, MCE menyiapkan sejumlah langkah perbaikan, meliputi penguatan pola pikir adaptif, peningkatan keterampilan guru melalui pelatihan intensif, penyediaan panduan penggunaan dan video tutorial, serta layanan pendampingan dan konsultasi berkelanjutan.

“Kami juga merencanakan peningkatan kualitas platform, penyesuaian waktu pelaksanaan melalui kerja sama lebih awal, serta menyiapkan tim pendukung khusus,” imbuhnya.

Lebih lanjut, MCE juga menyiapkan strategi pemberdayaan guru-guru yang dinilai aktif dan berhasil memanfaatkan platform sebagai fasilitator pendampingan di sekolah lain.

“Tahun ajaran depan kami akan mencoba menggandeng beberapa guru yang penggunaannya cukup baik dan aktif. Harapannya, proses pelatihan tidak selalu dari tim kami, tetapi juga dari guru-guru yang berpotensi menjadi role model,” jelasnya.

Melalui evaluasi ini, Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY berharap implementasi program AI dan coding di sekolah Muhammadiyah semakin optimal serta mendorong peningkatan kualitas pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.