Yogyakarta – Transformasi pendidikan menuju sekolah/madrasah unggul dan berkemajuan menjadi fokus pembahasan dalam rapat dinas yang digelar Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PWM DIY, Senin (21/4/2026), di Aula PWM DIY.
Kegiatan ini diikuti kepala SMP/MTs Muhammadiyah se-DIY dengan agenda Asesmen Sekolah/Madrasah serta Tes Kemampuan Akademik (TKA) Pendidikan Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA).
Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, Achmad Muhamad menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam pengelolaan sekolah/madrasah Muhammadiyah.
“Di sekolah/madrasah itu ya harus ada setidaknya koordinator yang mengurusi seluruh yang berkaitan dengan ISMUBA. Bahkan sesungguhnya tugas dan amanahnya itu cukup berat karena sifatnya harian, mulai dari tadarus, salat duha, hingga pembinaan akhlak dan tajwid,” paparnya.
Ia menambahkan, posisi tersebut perlu mendapat perhatian setara dengan bidang lain dalam manajemen sekolah agar penguatan karakter dan nilai keislaman berjalan optimal.
Dalam kesempatan itu, Achmad memaparkan arah transformasi pendidikan melalui lima langkah utama, yakni membaca perubahan, memahami persaingan, mengenali potensi, menentukan arah, serta merencanakan strategi. Perubahan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi harus direspons secara cepat oleh sekolah.
“Cara pandang orang tua terhadap pendidikan sudah berubah. Anak-anak juga sangat akrab dengan teknologi informasi, bahkan lebih cepat beradaptasi dibandingkan kita,” katanya.
Achmad memahami bahwa tidak semua pihak siap melakukan transformasi karena berbagai faktor, seperti berada di zona nyaman, takut gagal, atau merasa perubahan tidak bermanfaat. Merujuk pada konsep Seven S Framework, ia menyampaikan pentingnya nilai sebagai pusat dari strategi, sistem, hingga gaya kepemimpinan dalam transformasi lembaga pendidikan.
“Di Muhammadiyah, nilai itu jelas, yaitu Al-Islam dan kemuhammadiyahan. Itu yang kemudian mempengaruhi bagaimana strategi, sistem, dan kepemimpinan dijalankan. Kita refleksikan, apakah kita menjadi penghapus, yang menghilangkan semua yang lama, atau menjadi pemimpin yang berani di depan dan antusias melakukan transformasi,” ujarnya.“
Achmad menegaskan, upaya menuju sekolah/madrasah Muhammadiyah unggul harus didukung transformasi pendidikan pada aspek pembelajaran, manajemen, kepemimpinan, dan kemitraan.
Sehingga, sekolah/madrasah Muhammadiyah di DIY diharapkan agar adaptif terhadap perkembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama kesiapan sumber daya manusia yang sama pentingnya dengan sarana prasarana.
Selaras dengan upaya tersebut, Achmad menyampaikan bahwa Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY telah menjalin kerja sama dengan Marshall Cavendish Education (MCE), Singapura, dalam pemanfaatan platform kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan.
Program ini difokuskan pada peningkatan mutu pembelajaran, penguatan kompetensi guru, serta pengembangan literasi digital siswa.
“Perkembangan teknologi informasi harus menjadi perhatian kita. Karena itu kami menghadirkan layanan platform AI khusus pendidikan sebagai bagian dari upaya transformasi pendidikan,” tuturnya.
Melalui berbagai langkah tersebut, Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY berharap sekolah/madrasah Muhamamdiyah terus berkembang menjadi lembaga pendidikan unggul, berkemajuan, dan mampu menjawab tantangan zaman.
“Tidak ada sekolah yang tanpa potensi. Tidak ada kepala sekolah yang tidak punya potensi. Bedanya hanya mau belajar atau tidak,” pungkasnya.
