Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY – Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) D.I. Yogyakarta berencana menjalin kerja sama strategis dengan Marshall Cavendish Education (MCE), Singapura. Kemitraan ini ditandai dengan sosialisasi pembelajaran yang diselenggarakan pada Selasa (27/5/2025) di Aula PWM DIY.
Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah/madrasah Muhammadiyah DIY, khususnya dalam mempersiapkan siswa menghadapi era Education 5.0. Peningkatan kualitas pembelajaran tersebut mencangkup aspek berpikir kritis (critical thinking) dan keterampilan komputasi (computational thinking) melalui integrasi AI dan Coding dalam kurikulum.
Ketua Dikdasmen-PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, dalam sambutannya menegaskan pentingnya upaya pendidikan yang unggul dan terus berkembang. “Kita ini, Muhammadiyah, berupaya menjadi yang terbaik, tapi kalau tidak bisa yang terbaik, setidaknya menjadi lebih baik, better and greater, menjadi lebih besar,” ujarnya, mengutip pesan dari Prof. Abdul Mu’ti.
Achmad menambahkan, semangat Muhammadiyah adalah selalu ingin hadir di tengah zaman, mengubah zaman, dan membangun zaman dengan kemajuan, sehingga inisiatif ini diharapkan mampu membawa sekolah/madrasah Muhammadiyah DIY menjadi unggul berkemajuan.
Acara sosialisasi ini dihadiri oleh perwakilan dari 51 sekolah/madrasah Muhammadiyah serta Majelis Dikdasmen PNF PDM se-D.I. Yogyakarta, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Integrasi AI dan Coding dalam Kurikulum
Sosialisasi pembelajaran ini disampaikan secara langsung Tri Turturi Farah Meswari selaku Regional Director Southeast Asia, MCE. Tri memperkenalkan bahwa MCE telah mengembangkan bahan ajar dan teknologi AI yang saat ini digunakan oleh seluruh sekolah publik di Singapura, dari tingkat SD hingga SMA.
Tri mengatakan bahwa MCE juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai negara lain seperti Kazakhstan, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat yang tertarik mempelajari metodologi pembelajaran matematika. Selain itu, salah satu keunggulan mereka adalah sistem penilaian kualitas tulisan dan esai siswa menggunakan teknologi kecerdasan artifisial.
“Hasil riset internal MCE menunjukkan bahwa siswa yang belajar matematika plus Coding memiliki nilai 17% lebih baik dibandingkan yang hanya belajar matematika, menandakan peran penting Coding dalam pengembangan critical thinking,” ungkap Tri.
Lebih lanjut, Ia menyoroti pentingnya learning yang lebih esensial dibandingkan hanya schooling, merujuk pada buku “Facts About Schooling” karya Profesor Lant Pritchett yang membahas fenomena di mana banyak konsep pendidikan di negara berkembang terjebak dalam Great Betrayal.
“Apalah arti semua itu kalau ternyata kita kehilangan elemen joyful learning. Guru tidak akan tergantikan oleh AI, tetapi guru yang tidak bisa beradaptasi dengan teknologi akan digantikan oleh guru yang melek teknologi,” kata Tri.
Mengutip Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, Tri menekankan dua hal dalam pendidikan yaitu memaksimalkan potensi setiap peserta didik dan menjaga elemen joyful learning dalam pembelajaran. Melalui MCE, program yang akan diimplementasikan mencakup kurikulum AI dan Coding yang terintegrasi dengan mata pelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics, and Arts).
“Marshall Cavendish Education telah mengembangkan kurikulum Coding dari kelas 1 hingga kelas 12, lengkap dengan rencana pembelajaran (lesson plan), teknik mengajar, materi pembelajaran, video, kuis, hingga sertifikat di akhir pembelajaran,” papar Tri.
Pembelajaran Coding ini, lanjut Tri, dirancang singkat, hanya 40 hingga 60 menit per pekan di tingkat SD, SMP, maupun SMA. Bagi jenjang SMP dan SMA, kurikulum juga mencakup pengembangan website, Python, kecerdasan buatan, pengembangan aplikasi seluler, dan pengembangan game.
Tri mengatakan bahwa World Economic Forum pada tahun 2022 telah menyepakati bahwa generative AI akan menjadi game changer di setiap industri, termasuk pendidikan, dan telah mendefinisikan 10 skill yang harus dikembangkan oleh sekolah masa depan. Melalui sosialisasi ini, pihaknya berharap dapat menjali sinergi dan membantu sekolah/madrasah Muhammadiyah di DIY lebih siap menghadapi tantangan pendidikan global. (guf)
