Sebanyak 113 murid SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (SMA Muhi) resmi diterjunkan menjadi mubaligh hijrah Ramadan 1447 H. Yakni 50 murid bertugas di Kecamatan Minggir, Sleman, dan 63 murid di Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta untuk mengisi kegiatan keagamaan di masjid-masjid Muhammadiyah.

Selama Ramadan, para mubaligh menjalankan peran sebagai imam salat, kultum, pemandu tadarus Al-Quran, pendamping pesantren kilat, serta pembina TPA menjelang waktu berbuka puasa.

Kepala SMA Muhi, Herynugroho menjelaskan, program Mubaligh Hijrah menjadi bagian dari strategi pendidikan karakter sekaligus penguatan kompetensi abad ke-21. Kemampuan komunikasi menjadi keterampilan utama yang harus dimiliki generasi muda saat ini.

Ia menilai, di era global murid dituntut mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, percaya diri berbicara di depan public dan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang beragam. Termasuk kemampuan kolaborasi, berpikir kritis, kreativitas serta problem solving.

“Melalui program ini, murid belajar langsung menghadapi masyarakat berbagai latar belakang usia dan karakter. Mereka belajar memilih bahasa yang tepat, membangun kedekatan, serta menyampaikan pesan keagamaan dengan bijak,” ungkapnya.

Herynugroho menambahkan, pengalaman ini akan membentuk mental tangguh dan empati sosial murid. Contohnya saat mendampingi TPA menjelang berbuka puasa, murid tidak hanya mengajarkan bacaan Al-Quran, tetapi juga membimbing adab, kedisiplinan dan semangat beribadah anak-anak.

Program mubaligh hijrah ini juga sejalan dengan gerakan dakwah Muhammadiyah yang menekankan amar ma’ruf nahi munkar melalui pendidikan dan pemberdayaan umat.

Sinergi antara sekolah dan masjid Muhammadiyah di Minggir dan Tegalrejo menjadi wujud nyata kolaborasi dalam membina generasi Islami yang berkemajuan.

Koordinator program, Isnanto Widi Putranto menjelaskan, program Mubaligh Hijrah Ramadan merupakan kegiatan pengabdian murid yang dirancang melatih peran dakwah secara langsung di tengah masyarakat.

“Persiapan kegiatan dilakukan tiga bulan sebelum Ramadan melalui proses seleksi. Mulai dari tes membaca Al-Quran, praktik bacaan salat dan wudu, wawancara, penguasaan wawasan Islam, serta penilaian aspek kepribadian,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebelum diterjunkan ke lokasi, seluruh peserta mendapatkan pembekalan intensif.

“Pembekalan ini penting agar murid tidak hanya siap secara materi dakwah, tetapi juga matang dalam bersikap dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat,” tambahnya.

Sebagai salah satu agenda unggulan Ramadan SMA Muhi, sekolah berharap para mubaligh hijrah mampu menjadi teladan, penggerak kegiatan ibadah dan inspirasi bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, Ramadan tidak sekadar momentum peningkatan ibadah personal, melainkan ruang pembelajaran nyata bagi murid untuk tumbuh sebagai generasi berilmu, berakhlak mulia, komunikatif dan siap menghadapi tantangan global di masa depan. (Yusron/guf)