YOGYAKARTA, Dikdasmenpnfdiy – Penguatan nilai-nilai ideologis dinilai menjadi fondasi mewujudkan sekolah/madrasah Muhammadiyah unggul, berdaya saing dan berkelanjutan.
Upaya itu bisa dilakukan lewat lima langkah transformasi, yakni membaca perubahan, memahami dinamika persaingan, menentukan arah pengembangan, mengenali potensi yang dimiliki, hingga menyusun strategi yang tepat dan berkesinambungan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, Achmad Muhammad saat menjadi narasumber Webinar Series #1 School Branding bertajuk “Why Do Parents Choose Your School?” yang digelar Pusat Pendidikan dan Latihan Muhammadiyah (PusdiklatMU).
Kegiatan itu berlangsung secara daring pada Jumat, (20/2/2026. Pada momen tersebut, Achmad memaparkan materi bertajuk “Penguatan Nilai-nilai Ideologis dalam Transformasi Menuju Sekolah/Madrasah Unggul”.
“Sekolah yang tidak mengenali potensi dan asetnya, baik yang tangible maupun intangible, akan sulit berkembang. Padahal justru nilai dan jaringan itulah yang menjadi kekuatan,” tuturnya.
sekolah Muhammadiyah diharapkan mampu membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif, inovatif, dan berorientasi pada kemanfaatan bagi masyarakat.
Achmad menjelaskan, dalam kerangka pengelolaan pendidikan, shared values atau nilai bersama menjadi energi penggerak seluruh komponen. Nilai tersebut memengaruhi sistem, keterampilan, gaya kepemimpinan, hingga struktur organisasi.
“Nilai-nilai yang dipahami bersama, diakui bersama, dan diaktualisasikan bersama itulah yang akan menggerakkan seluruh sistem,” ucapnya.
Pendidikan lingkungan Muhammadiyah harus berpijak pada nilai-nilai ideologis, seperti tajdid (pembaruan), tandzim (pengelolaan), dan ta’lim (pembelajaran), yang terintegrasi dengan pencerahan spiritual dan kepekaan sosial.
Sehingga, kata Achmad, pendidikan tidak cukup hanya transfer pengetahuan. Harus ada pencerahan spiritual agar ilmu itu diamalkan.
Lebih lanjut, Dosen UIN itu juga mengingatkan, kepemimpinan harus dimaknai sebagai kerja kolektif, bukan one man show yang berarti berjalan sendiri. Tetapi manajemen harus mendukung bagaimana sekolah diciptakan dan dikembangkan bersama, mendukung ekosistem pembelajaran yang sehat.
Termasuk kerja sama dengan para pemangku kepentingan, terutama orang tua dan masyarakat. “Orang tua siswa sangat-sangat penting. Banyak program sekolah yang sukses karena adanya kolaborasi dengan orang tua dan pihak lain,” katanya.
Dalam konteks branding sekolah, Achmad menekankan bahwa prestasi siswa dan kualitas lulusan merupakan tolok ukur utama kepercayaan publik.
“Sehebat apa pun kepala sekolah dan gurunya, kalau muridnya tidak berprestasi dan lulusannya tidak berkualitas, kepercayaan masyarakat tidak akan percaya,” tegasnya..
Ia menambahkan, sekolah/madrasah Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi solusi bagi persoalan sosial di masyarakat melalui inovasi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
“Menjadi sekolah/madarah Muhamamdiyah unggul berkemajuan itu harus inovatif, dinamis, terbuka terhadap perubahan, dan berorientasi pada pelayanan serta kemanfaatan bagi masyarakat,” pungkasnya. (guf)
