*Oleh: Dr.Dra. Sarjilah, M.Pd (Ketua Bidang Pendidikan Nonformal)
Sumber: Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 6 Tahun 2026
Di sebuah ruang kelas SD Muhammadiyah di Yogyakarta, sekelompok siswa tampak serius menggambar motif parang di atas kertas digital. Di sudut lain, teman-temannya melafalkan tembang dolanan Jawa.
Sementara di laboratorium multimedia SMK Muhammadiyah di Wates, Kulon Progo, kelompok siswa sedang merancang kemasan produk herbal lokal untuk dipasarkan melalui market place.
Sekilas aktivitas itu tampak berbeda. Namun, sesungguhnya mereka sedang belajar hal yang sama: mengenali akar, memahami lingkungan, dan menyiapkan masa depan. Inilah wajah baru muatan lokal, bukan lagi sekadar pelajaran tambahan yang “diselipkan” di jadwal sekolah, melainkan ruang pendidikan yang mempertemukan budaya, karakter, teknologi, dan cita- cita besar peradaban.
Apa sesungguhnya muatan lokal?
Secara sederhana, muatan lokal adalah pendidikan yang mengajarkan anak tentang kehidupan yang paling dekat dengannya: bahasa yang anak dengar sejak kecil, budaya yang hidup di lingkungannya, kearifan masyarakatnya, hingga potensi ekonomi daerah tempat anak tumbuh.
Pemerintah melalui Permendikbud Nomor 79 Tahun 2014 mendefinisikan muatan lokal sebagai “bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal”.
Makna tersebut berarti sekolah tidak hanya bertugas menanamkan ilmu universal, tetapi juga memastikan peserta didik mengenal identitas dirinya.
Dalam praktiknya, muatan lokal berkembang dalam beberapa bentuk. Pertama, muatan lokal bahasa dan budaya yang terdiri dari bahasa daerah, aksara lokal, seni tari, musik tradisional, batik, sastra daerah, hingga tradisi lisan.
Kedua, muatan lokal lingkungan dan kearifan hidup yang terdiri dari pertanian, konservasi air, pengelolaan sampah, budaya maritim, dan pengobatan tradisional.
Ketiga, muatan lokal keterampilan dan kewirausahaan yang terdiri dari kerajinan, kuliner lokal, industri kreatif, hingga ekonomi digital berbasis potensi daerah. Terakhir,
Dari Kurikulum ke Kurikulum: Muatan Lokal yang Terus Bertumbuh
Permendikbud Nomor 79 Tahun 2014 tentang Muatan Lokal pada Kurikulum 2013 membuka ruang kreativitas yang luas bagi sekolah di seluruh Indonesia.
Di wilayah Jawa Tengah, misalnya, banyak sekolah dasar dan menengah menjadikan bahasa Jawa sebagai muatan lokal wajib, bukan sekadar pembelajaran bahasa, tetapi juga sebagai media penanaman nilai unggah-ungguh, tata krama, dan penghormatan kepada sesama.
Di Yogyakarta, muatan lokal berkembang lebih kaya dan kontekstual. Sejak 2010, sekolah-sekolah di Kota Yogyakarta mulai mengembangkan pembelajaran membatik sebagai bagian dari muatan lokal, menyusul pengakuan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Di daerah pesisir, sejumlah sekolah mengembangkan muatan lokal berbasis lingkungan dan ekonomi maritim. Anak-anak diajak mengenal ekosistem mangrove, budidaya ikan, hingga pengolahan hasil laut.
Sementara di wilayah agraris, muatan lokal hadir melalui kebun sekolah, budidaya tanama obat keluarga, pengolahan pangan lokal, hingga pertanian organik sederana yang melibatkan peserta didik secara langsung.
Bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah, ruang ini kemudian dikembangkan lebih luas lagi. Muatan lokal tidak hanya dipahami sebagai pelestarian budaya, tetapi juga sebagai bagian dari dakwah sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Banyak sekolah Muhammadiyah di DIY mulai mengintegrasikan bahasa Jawa, batik, karawitan, pertanian sekolah, hingga proyek kewirausahaan berbasis potensi lokal dengan semangat Islam Berkemajuan.
Sebelumnya, muatan lokal memiliki ruang struktural yang jelas pada jadwal pelajaran. Muatan lokal hadir lebih fleksibel, namun pada Kurikulum Merdeka dilaksanakan menyatu dalam proyek, kegiatan kokurikuler, pembelajaran lintas disiplin, hingga penguatan karakter.
Tantangan di Masa Depan: Apakah Muatan Lokal akan Tetap Bertahan?
Tantangan untuk menerapkan muatan lokal ke depan tidak ringan. Anak-anak hari ini lebih mengenal budaya global dibandingkan dengan budaya kampung halamannya. Kecer- dasan buatan mampu menggantikan banyak pekerjaan teknis. Teknologi mengubah cara manusia belajar. Namun, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin: identitas.
Maka di masa depan, tantangan terbesar muatan lokal bukan soal kurikulum, tetapi soal keberanian sekolah untuk menjadikan muatan lokal sebagai salah satu strategi penyelenggaraan pendidikan.
Sekolah Muhammadiyah memiliki modal besar untuk itu: akar nilai yang kuat, budaya belajar yang progresif, dan semangat dakwah yang terus hidup.
Selama semua itu tetap dijaga, pendidikan Muhammadiyah akan terus mampu melahirkan generasi yang memiliki identitas sesuai dengan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Pendidikan Muhammadiyah 2021–2045.
Ditegaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah diarahkan untuk menghasilkan peserta didik yang “beriman, bertakwa, berakhlak mulia, pintar, cerdas, terampil, berjiwa kepeloporan dan kepemimpinan, serta berkemajuan.”






