YOGYAKARTA – Ribuan pelajar Muhammadiyah se-DIY memenuhi kawasan Titik Nol Kilometer, Sabtu (5/9) pagi. Bersama guru dan tokoh Persyarikatan, para pelajar jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA melantunkan tembang macapat secara massal.
Kegiatan bertajuk Gelar Macapat 1000 Siswa Muhammadiyah diinisiasi Lembaga Seni Budaya (LSB) PWM DIY berkolaborasi dengan Majelis Dikdasmen & PNF PWM DIY dan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) DIY ini bagian dari Pekan Kebudayaan Muhammadiyah sekaligus rangkaian menuju Milad ke-114 Muhammadiyah pada November 2026, mendatang.
Agenda tersebut juga didukung Dinas Kebudayaan DIY melalui Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) dan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta melalui gerakan Setu Sinau Malioboro.
Para guru dan pelajar tampil dengan seragam khas masing-masing sekolah, mulai dari seragam IPM, Tapak Suci, Hizbul Wathan (HW), hingga seragam sekolah. Keragaman busana itu memperlihatkan keberagaman pelajar Muhammadiyah yang berpadu dalam satu panggung budaya di ruang publik
BACA JUGA : 25 Penerima Beasiswa S2 Resmi Tandatangani Kontrak Pendidikan, Majelis Tekankan Komitmen dan Tanggung Jawab
Empat tembang dilantunkan, yakni Kinanthi Mangu, Gambuh Jiwa Jawi, Mijil Raramanglung, dan Pocung. Dua tembang pertama merupakan karya kader IPM DIY.
“Ini event yang dilaksanakan paralel bersama FKY 2026 dan Setu Sinau Malioboro. Sejalan dengan Mangayubagya 14 Tahun UU Keistimewaan DIY serta FKY 2026 bertema AKSARA,” tutur Ketua LSB PWM DIY, Dian Korprianing Nugraha.
Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PWM DIY, Achmad Muhamad menilai, macapat tidak sekadar kesenian yang diwariskan, namun bagian dari Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).
Ia mengingatkan, seni budaya juga salah satu medium dakwah Muhammadiyah. Selaras dengan rekam jejak pendirinya, KH Ahmad Dahlan yang dikenal mahir memainkan biola.
“Maka penting bagi kita untuk juga ikut nguri-uri, melestarikan kesenian dan budaya Jawa, tentu ya, sesuai dengan nilai-nilai agama Islam,” imbuh Achmad.
Kegiatan yang melibatkan ribuan pelajar itu menjadi ajang kolaborasi antarunsur Muhammadiyah dalam menghidupkan kebudayaan di kalangan pelajar.
BACA JUGA : SMP Muhamamdiyah 10 Yogyakarta Bekali Siswa Kembangkan Ide Bisnis dengan AI
Hal senada disampaikan Wakil Ketua PWM DIY, Iwan Setiawan, menuturkan bahwa pelibatan ribuan pelajar menunjukkan Muhammadiyah tidak berjarak dengan seni dan budaya.
“Ini bukti bahwasanya Muhammadiyah itu tidak anti-seni dan tidak anti-budaya,” tegasnya.
Iwan menambahkan, Muhammadiyah sebagai bagian dari pilar Keistimewaan DIY bersama Keraton, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Tamansiswa. Menurutnya, keistimewaan Yogyakarta perlu dijawab dengan kontribusi dan aktivitas positif, salah satunya melalui pelantunan macapat oleh 1.000 pelajar Muhammadiyah.
Baginya, macapat tidak sekadar diperkenalkan sebagai kesenian Jawa. Isi tembang memuat nasihat mengenai pendidikan, penghormatan kepada orang tua, serta nilai-nilai kebaikan.
“Semoga kegiatan ini tak berhenti di sini. Harapannya bisa melibatkan 5.000 hingga 10.000 pelajar pada tahun depan menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah,” pungkasnya.
Melihat antusiasme para pelajar, Wakil Ketua LSB Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sarjilah, mengungkapkan apresiasi kepada para pelajar serta para guru.
Baginya, kegiatan ini menjadi bukti keseriusan dalam memperkuat seni dan budaya di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Penguatan budaya Jawa, lanjut Sarjilah, dalam pendidikan, baik lewat muatan lokal maupun kegiatan ekstrakurikuler menjadi sarana memperkuat karakter sekaligus kecintaan pelajar terhadap budaya daerah.
“Melalui budaya Jawa, kita bisa membangun karakter-karakter siswa kita, pelajar Muhammadiyah. Karena tembang macapat tidak sekadar menjadi kekayaan budaya, tetapi juga sarat akan nilai edukatif lewat syair-syairnya,” tandasnya.





