YogyakartaMajelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PWM DIY menggelar monitoring dan evaluasi (monev) program Artificial Intelligence (AI), Skribo, coding, dan matematika yang telah berjalan satu semester. Pertemuan ini diikuti sebanyak 21 kepala sekolah/madrasah Muhammadiyah DIY yang bekerja sama dengan Marshall Cavendish Education (MCE) Singapura.

Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag., mengingatkan agar program kerja sama tidak sekadar dijalankan secara formalitas. Ia menekankan perlunya pemantauan rutin agar program tidak berhenti di tataran konsep.

Sebab itu, Achmad meminta agar sekolah/madrasah yang telah menjalin kerja sama tidak sekadar ikut, atau untuk hanya untuk branding, tapi juga memaksimalkan monitoring dan evaluasi implementasi dalam pembelajaran.

“Mohon Bapak-Ibu guru melakukan monitoring. Saat menerapkan program AI, Skribo, matematika, dan coding, pastikan anak-anak bisa memanfaatkannya secara optimal dan tidak sekadar teoritis,” ujarnya, Selasa siang (23/9) di Ruang Aula PWM DIY.

Achmad menilai, program MCE memiliki keunggulan yang patut diapresiasi karena bersifat aplikatif, bukan hanya teoritis.

“Saya melihat program MCE cukup lengkap karena mengajarkan AI dan coding bukan hanya teori, tetapi juga penggunaannya dalam pembelajaran. Ini nilai tambah yang patut diapresiasi. Ini wujud komitmen kerja sama yang saling menguntungkan,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, Achmad juga membahas rencana kunjungan ke kantor pusat MCE di Singapura yang akan dijadwalkan pada 19–22 November 2025. Kegiatan bertajuk School Leaders Workshop tersebut akan diikuti kepala sekolah.

Achmad mejelaskan bahwa kunjungan ini penting agar pimpinan sekolah mendapat inspirasi langsung dari praktik pendidikan di Singapura.

“Kami ingin para kepala sekolah bisa melihat langsung bagaimana MCE menjalankan programnya. Sehingga bisa membawa gagasan-gagasan baru untuk kemajuan sekolah,” ungkapnya.

Dr. Enung Hasanah, M.Pd., Wakil Ketua Bidang Kelembagaan dan Kerja Sama Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, menambahkan bahwa program akan mencakup workshop kepemimpinan dan observasi lapangan.

“Para kepala sekolah diajak mengunjungi parent company MCE, mengamati pelaksanaan program Artificial Intelligence,  skribo, coding, dan lainnya. Harapannya, mereka dapat menduplikasi atau menyesuaikan praktik yang sudah berjalan,” jelasnya.

Enung juga menyebutkan, workshop akan berlangsung dua hari dengan sesi leadership dan pengelolaan program berbasis teknologi pendidikan.

“Kami masih mendiskusikan detail materi bersama MCE, tetapi fokusnya pada kepemimpinan sekolah dan penerapan teknologi dalam pembelajaran,” pungkasnya.

Melalui monitoring berkelanjutan dan rencana kunjungan ke MCE Singapura, Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY berharap sekolah/madrasah Muhammadiyah di DIY semakin siap mengadopsi teknologi pendidikan modern dan meningkatkan kualitas pembelajaran. (guf)