YOGYAKARTA – Sebanyak 15 Wakil Kepala Sekolah/Madrasah Bidang, Bendahara, dan Kepala Tata Usaha (TU) di lingkungan SMA/MA Muhammadiyah DIY resmi dilantik, Kamis (1/10).

Mereka berasal dari SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta, SMA Muhammadiyah Piyungan, dan MA Darul ‘Ulum Muhammadiyah Galur.

Pelantikan berlangsung di Aula Utama Kantor PWM DIY ini menjadi bagian dari penguatan tata kelola sekolah/madrasah Muhammadiyah.

Para pejabat yang dilantik terdiri atas wakil kepala bidang Kurikulum, Kesiswaan, Humas, Sarana-prasarana (Sarpras) dan ISMUBA, Bendahara, serta Kepala Tata Usaha (KTU).

Adapun nama dan jabatan yang dilantik sebagai berikut:

Pelantikan Waka SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta, SMA Muhammadiyah Piyungan, dan MA Darul ‘Ulum Muhammadiyah Galur

Pelantikan Waka SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta, SMA Muhammadiyah Piyungan, dan MA Darul ‘Ulum Muhammadiyah Galur

SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta

  1. Desi Imanuni, S.Pd., Gr. — Wakil Kepala Bidang Kurikulum
  2. Ardhya Lestari Putri, S.Pd. — Wakil Kepala Bidang Humas dan Kesiswaan
  3. Arif Budiman, S.Pd. — Wakil Kepala Bidang Sarpras dan ISMUBA
  4. Sugiyarta — Bendahara
  5. Sigit Yulianto, S.Kom. — Kepala Tata Usaha

SMA Muhammadiyah Piyungan

  1. Risna Iswahyuni, S.Pd. — Wakil Kepala Bidang Kurikulum
  2. Putri Tunggal Ramadhan Wijiutami, S.Pd. — Wakil Kepala Bidang Kesiswaan dan Humas
  3. Setya Sapti Wulandari, S.E. — Wakil Kepala Bidang Sarpras dan ISMUBA
  4. Ari Nurohmawati, S.Si. — Bendahara
  5. Yeni Setiyowati, A.Md. — Kepala Tata Usaha

MA Darul ‘Ulum Muhammadiyah Galur

  1. Rida Candra Ningrum, S.Pd. — Wakil Kepala Bidang Kurikulum
  2. Neili Badiatul Khusna, S.Pd. — Wakil Kepala Bidang Kesiswaan dan ISMUBA
  3. Susi Utari, S.Pd.I. — Wakil Kepala Bidang Humas dan Sarpras
  4. Muriana Hardianti — Bendahara
  5. Suratiman — Kepala Tata Usaha

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag., dalam arahannya menekankan pentingnya membangun tata kelola sekolah dan madrasah yang seimbang dan harmonis.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag.

Prinsip tersebut perlu diwujudkan melalui sinergi seluruh unsur pimpinan, mulai dari kepala sekolah/madrasah, wakil kepala, bendahara hingga tenaga kependidikan.

Achmad menjelaskan, prinsip keseimbangan sebagaimana konsep ummatan wasathan dalam QS Al-Baqarah ayat 143. Islam mengajarkan keseimbangan, tidak berlebihan pada satu sisi, tetapi mampu menempatkan berbagai kepentingan secara proporsional.

“Dari sinilah kita mestinya berpikir dan berikhtiar untuk mengimplementasikan Islam yang wasathiyah dalam kehidupan, termasuk dalam tata kelola sekolah dan madrasah kita,” ujarnya.

Sejalan dengan Risalah Islam Berkemajuan yang diputuskan Muhammadiyah dalam Muktamar di Surakarta.

“Islam tidak cukup hanya disampaikan secara lisan maupun tertulis, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan dan aktivitas kehidupan untuk membangun peradaban utama,” ucapnya.

Sekolah, lanjut Achmad, tidak semestinya hanya berorientasi pada peningkatan jumlah peserta didik tanpa memperhatikan keseimbangan dengan lingkungan fisik, tetapi juga proses pembelajaran. Achmad menekankan pentingnya kedisiplinan akademik yang berjalan seimbang dengan pembelajaran yang bermakna, mendalam, berkesadaran, serta menggembirakan.

“Anak-anak harus tahu mengapa mereka harus belajar satu mata pelajaran atau satu topik. Pembelajaran harus dilakukan dengan aktivitas yang mengarah pada pembelajaran mendalam, bermakna, berkesadaran, dan tentunya menggembirakan,” katanya.

Di sisi lain, sekolah juga perlu memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengekspresikan diri, berkreasi, dan berinovasi. Karena itu, penguatan karakter harus berjalan beriringan dengan pencapaian akademik.

Achmad menilai peran wakil kepala sekolah/madrasah menjadi penting dalam memastikan keseimbangan tersebut. Bersama kepala sekolah atau kepala madrasah, para wakil kepala perlu merancang dan mengawal pelaksanaan program melalui kurikulum serta bidang tugas masing-masing.

“Kita perlu menjaga keseimbangan antara aspek spiritual dan ikhtiar profesional. Sekolah dan madrasah tidak bisa dikelola hanya dengan prinsip amal tanpa memikirkan usaha dan manfaat yang bisa diperoleh. Sebaliknya, jangan hanya berpikir soal usaha sampai kehilangan ruang amal,” tegasnya.

Perkuat Sinergi Antarbidang

BACA JUGA: Perkuat Tata Kelola dan Validitas Data untuk Keunggulan Pendidikan Muhammadiyah DIY

Lebih lanjut, Achmad juga menekankan pentingnya soliditas dan konsolidasi antarbidang. Setiap unsur dalam tata kelola sekolah saling berkaitan, sehingga tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

“Tidak ada yang lebih dari satu dengan yang lain. Kurikulum tidak bisa berdiri sendiri tanpa kesiswaan, sarana-prasarana, humas, maupun bidang lainnya. Semuanya harus berjalan bersama,” tuturnya.

Pengelolaan secara proporsional itu perlu memperhatikan berbagai standar pendidikan, mulai anggaran, proses, hingga guru dan tenaga kependidikan.

“Yang melakukan aransemen adalah seluruh pimpinan di sekolah dan madrasah, sehingga seluruh aktivitas di berbagai bidang bisa berjalan secara harmoni dengan sebaik-baiknya,” imbuhnya.

Achmad memahami, setiap sekolah memiliki dinamika masing-masing dan perlu menjaga semangat untuk terus tumbuh.

Sebab itu, para wakil kepala sekolah/madrasah, bendahara, dan Kepala TU yang baru dilantik diharapkan dapat memperkuat kerja sama dan menjadi bagian penting dari upaya perbaikan tata kelola sekolah/madrasah Muhammadiyah.

“Insyaallah, setahap demi setahap, kemajuan sekolah dan madrasah kita bisa kita upayakan. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk bersama-sama berjuang di Amal Usaha Muhammadiyah dan memberikan keberkahan bagi seluruh ikhtiar amal kita di Persyarikatan,” tutupnya.