YOGYAKARTA – Sebanyak 23 sekolah/madrasah Muhammadiyah jenjang SD/SMP/SMA/SMK di DI. Yogyakarta akan mulai mengimplementasikan pembelajaran berbasis kecerdasan artifisial (AI) dan Coding pada tahun ajaran 2026/2027.
Implementasi teknologi pembelajaran di lingkungan sekolah itu merupakan hasil kerja sama dengan Marshall Cavendish Education (MCE), Singapura pada Selasa, (2/6) di SMA Muhammadiyah Yogyakarta.
Program tersebut dirancang sebagai pendamping belajar murid untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal, bukan sebagai pengganti peran guru.
Mulai dari AI Numerasi, Matematika, Coding, AI Speaking, dan AI Interaction sebagai alat untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal sesuai kebutuhan masing-masing murid.
Business Development Director Marshall Cavendish Education untuk Asia Tenggara, Tri Turturi Farah Meswari, MBA, mengatakan penerapan AI dan koding dalam pendidikan memerlukan proses yang panjang dan bertahap.
Ia mencontohkan pengalaman Singapura yang memulai riset AI sejak 2018 sebelum akhirnya diterapkan secara serentak di seluruh sekolah publik pada 2024.
“Jadi riset AI kami di Singapura itu dimulai tahun 2018. Bahkan sebelum Covid pada saat itu terjadi. Lalu 2019 itu mulai masuk rencana kerja Kementerian Pendidikan Singapura. Sampai akhirnya lima tahun kemudian, yaitu di tahun 2024, mulai diterapkan secara serentak di seluruh sekolah publik yang ada di Singapura,” ujarnya.
Menurut Tri Turturi, rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan berbasis teknologi membutuhkan masa penyesuaian, evaluasi, dan penyempurnaan sebelum dapat diterapkan secara luas.
Pihaknya juga telah mengantongi berbagai kendala yang masih ditemui sekolah Muhammadiyah dalam implementasi AI. Masukan dari sekolah dan Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, kata dia, telah menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program berikutnya.
“Kami menyadari kalau memang masih ada, katakanlah, penyesuaian beberapa kendala permasalahan yang Bapak dan Ibu hadapi. Itu sudah menjadi catatan kami, baik dari hasil diskusi dengan majelis maupun dari diskusi Bapak Ibu kepala sekolah. Semoga di tahun ini bisa berjalan lebih baik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Tri Turturi mengungkapkan pendekatan yang digunakan Singapura dalam memaknai AI di dunia pendidikan. AI tidak semata dipahami sebagai Artificial Intelligence, tetapi sebagai Additional Instructor atau instruktur tambahan yang membantu proses belajar.
“Konsep AI pemerintah Singapura itu tidak mendefinisikan AI sebagai Artificial Intelligence, tapi AI sebagai Additional Instructor. Jadi ketika AI betul-betul bisa menjadi partner belajar siswa secara sendiri, sehingga yang namanya personalized learning itu bisa terjadi dengan bantuan teknologi, itulah sebenarnya harapan kami ketika AI ini nanti diterapkan di sekolah-sekolah,” paparnya.





