YOGYAKARTA — Transformasi pendidikan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Muhammadiyah. Seiring menguatnya gerakan internasionalisasi, guru Muhammadiyah dituntut memiliki kemampuan mengajar yang memungkinkan mereka berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah di berbagai negara.
Pesan itu disampaikan Prof. Zamroni, Ph.D., Dewan Pakar Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saat memberikan keynote speech dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pendidikan dalam Pembelajaran MIPA Bilingual, Kamis (24/9).
Zamroni menjelaskan, penguatan kompetensi guru menjadi bagian penting dari arah gerakan Muhammadiyah menuju dunia internasional. Selaras perkembangan pendidikan Muhammadiyah di luar negeri, mulai dari kampus di Malaysia hingga sekolah di Melbourne, Australia.
Peluang kerja sama pendidikan juga semakin terbuka. Kenya, Uganda, dan sejumlah negara di Afrika belum lama ini meminta Muhammadiyah membantu pendidikan sekolah.
“Guru Muhammadiyah harus siap untuk dikirim mengajar di sekolah Muhammadiyah di manapun berada,” kata Zamroni.
Kesiapan tersebut, lanjutnya, juga berkaitan dengan kemampuan berbahasa. Guru Muhammadiyah ke depan perlu mampu mengajar dalam bahasa Inggris maupun bahasa Arab sesuai kebutuhan.
BACA JUGA: Tingkatkan Mutu Pengajaran Inovatif, Guru Muhammadiyah DIY Ikuti Bimtek Digitalisasi MIPA Bilingual
Dalam bidang MIPA, kemampuan bahasa diarahkan berjalan bersama dengan pengembangan pembelajaran yang integratif. Misalnya, materi MIPA yang tidak hanya memuat pengetahuan umum, tetapi juga menghubungkannya dengan sumber pengetahuan keislaman.
Perubahan Cara Mengajar
Di tengah internasionalisasi Muhammadiyah yang semakin masif, Zamroni menyoroti persoalan lebih mendasar, yakni perubahan cara mengajar. Sebab, mutu pembelajaran dan mutu lulusan sangat berkaitan dengan kualitas proses belajar di kelas.

Bimtek Digitalisasi Pendidikan MIPA Bilingual
Berbagai pendekatan telah diperkenalkan untuk mendorong keterlibatan siswa, antara lain Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan student active learning.
Namun, ia menilai perubahan tersebut belum berhasil mengubah praktik pembelajaran secara mendasar.
“Selama ini kita itu tidak pernah berhasil dalam merubah cara mengajar. Oleh karena itu, selama itu juga mutu siswa kita tidak pernah bagus,” katanya.
Zamroni menyoroti hasil perubahan pendidikan di Vietnam yang berhasil melakukan transformasi pembelajaran dari pola konvensional menuju metode inquiry.
Perubahan cara mengajar itu disebut menjadi salah satu faktor yang dipelajari ketika kualitas pendidikan Vietnam mengalami peningkatan.
Berdasar pengalaman tersebut, Zamroni menilai bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya melalui pergantian program. Perubahan harus terjadi pada praktik guru ketika mengajar siswa.
BACA JUGA: Majelis Dikdasmen PNF DIY Perkuat Peran Waka dalam Penyempurnaan RKAS/M
Mengubah Cara Mengajar, Memperdalam Pembelajaran
Dalam konteks pendidikan saat ini, Zamroni menaruh perhatian pada penerapan pembelajaran mendalam (deep learning).
Menurutnya, keberhasilan pendekatan PM tersebut sangat bergantung pada guru sebagai pelaksana pembelajaran di kelas.
“Pelaksanaan pembelajaran mendalam tergantung pada para guru kita di kelas, pada orang-orang Dikdasmen, para guru kita,” tegasnya.
Karena itu, pihaknya mendorong para guru Muhammadiyah membangun kebiasaan untuk terus membicarakan dan mengevaluasi pembelajaran ketika bertemu sesama pendidik.
“Kalau guru ketemu guru, ngomonglah mengenai pembelajaran mendalam,” pesannya.
Zamroni mengakui perubahan tersebut tidak mudah. Sebab pembelajaran mendalam menjadi pendekatan yang masih baru dan membutuhkan proses pembiasaan.
“Memang tak gampang. Itu teori baru,” imbuhnya.
Guru sebagai Penggerak Perubahan
Zamroni menekankan, perubahan pendidikan pada akhirnya sangat bergantung pada guru. Kebijakan dan rancangan pembelajaran tidak akan memberikan dampak apabila tidak diterjemahkan ke dalam praktik di ruang kelas.
Pembelajaran yang dikembangkan ke depan diharapkan mampu menghadirkan proses belajar yang menyenangkan dan bermakna.
“Joyful learning dan meaningful learning sebagai bagian dari perubahan pembelajaran yang perlu diwujudkan,” pesannya.
Karena itu, guru Muhammadiyah didorong tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga terus mengembangkan kemampuan mengajar, termasuk dalam pembelajaran MIPA bilingual dan integratif.
Arah tersebut sejalan dengan kebutuhan Muhammadiyah yang semakin terbuka ke dunia internasional. Guru tidak hanya dipersiapkan untuk mengajar di sekolah masing-masing, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah di berbagai negara.
“Insyaallah, kita akan bisa menciptakan perubahan pembelajaran,” pungkasnya.





