SLEMAN — Wakil kepala (Waka) sekolah dan madrasah Muhammadiyah tidak sebatas menjalankan tugas administratif, tetapi juga memastikan nilai-nilai Muhammadiyah hadir dalam kebijakan, budaya, dan proses pendidikan.
Peran strategis itu ditegaskan Ketua Pimpinan Wilayah Muhamamdiyah (PWM) DIY, Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A., dalam Pembinaan Wakil Kepala Sekolah/Madrasah Bidang SMA/SMK/MA/SLB Muhammadiyah se-DIY di PRIMA SR Hotel & Convection, Sleman, Sabtu (12/9).
“Merah birunya anak-anak Indonesia di masa depan, termasuk kader-kader Muhammadiyah, ada di tangan dan pundak Bapak Ibu semua,” tuturnya.
Berada di garis dekat dengan guru, peserta didik, tenaga kependidikan, dan keluarga besar sekolah, kualitas kepemimpinan waka dinilai berpengaruh langsung terhadap suasana kerja, budaya belajar, serta pencapaian program pendidikan.
Karena itu, kata Ikhwan, penguatan mutu harus berjalan bersama dengan penguatan karakter dan nilai-nilai Persyarikatan.
Tujuannya agar kemajuan sekolah/madrasah Muhammadiyah tidak sekadar dilihat pertumbuhan jumlah peserta didik, fasilitas, atau capaian kelembagaan.
“Jangan sampai AUM-nya besar, tetapi rohnya hilang,” sambungnya.
Meneladani Pembaruan KH Ahmad Dahlan
Dalam arahannya, Ikhwan mengajak meneladani semangat pembaruan yang dilakukan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Ia menyebut, Muhammadiyah sejak awal hadir dengan keberanian membaca persoalan dan mencari cara baru untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
BACA JUGA: Majelis Dikdasmen PNF DIY Perkuat Peran Waka dalam Penyempurnaan RKAS/M
Dalam pendidikan, pembaruan terlihat dari perubahan pola pembelajaran serta upaya memadukan ilmu agama dan ilmu umum.
Tradisi pembaruan itu, kata Ikhwan, harus terus dirawat para pemimpian pengelola sekolah/madrasah Muhammadiyah. Yakni melakukan inovasi yang tidak sekadar mengikuti perubahan zaman.
“Keberanian melangkah harus diikuti tanggung jawab dan kesadaran terhadap risiko. Setiap langkah harus dibangun berdasarkan pengetahuan, pertimbangan yang matang, dan tanggung jawab terhadap dampaknya bagi sekolah maupun peserta didik,” paparnya.
Pemimpin Harus Well Educated dan Well Mannered
Lebih lanjut, Doktor Psikologi Pendidikan Islam itu menekankan pentingnya karakter pemimpin well educated. Sebab, orang terdidik bukan hanya memiliki pengetahuan, tetapi mampu menggunakan pengetahuannya untuk mencari solusi.
“Watak orang Muhammadiyah itu mencari solusi, bukan mempermasalahkan masalah,” jelasnya.
Para wakil kepala sekolah didorong untuk terus belajar, terbuka terhadap kritik dan perubahan, taat aturan, serta disiplin menyelesaikan tugas.
Sejalan dengan itu, pemimpin juga perlu mengedepankan well mannered, karena kompetensi dan karakter harus berjalan beriringan.
Mulai dari bersikap santun, bijak, jujur, terbuka, bertanggung jawab, inklusif, dan membangun kolaborasi.
“Sekolah harus menjadi keluarga besar yang merasa diayomi, dilindungi hak dan kewajibannya, serta diperhatikan suasana kebatinannya,” imbuh Ikhwan.
Menghidupkan Semangat Al-Ma’un
Semangat well educated dan well mannered juga sejalan dengan nilai Al-Ma’un. Di mana, pendidikan tidak sekadar melahirkan generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian dan mampu memberi manfaat.
Ikhwan memaparkan bahwa nilai tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Para pengelola sekolah tidak cukup hanya prihatin terhadap persoalan, tetapi harus berani mengambil keputusan dan mencari jalan keluar.
“Orang benar dan orang bijak tidak boleh diam dalam satu persoalan. Jika orang yang benar diam, yang akan menguasai adalah orang yang tidak bertanggung jawab,” pesannya.
Termasuk dalam menghadapi perbedaan dan tantangan, Ikhwan mengingatkan pentingnya karakter Muhammadiyah yang tetap mengedepankan sikap merangkul. Selaras keteladanan KH Ahmad Dahlan yang memperjuangkan pembaruan tanpa membalas penolakan dengan permusuhan.
“Meski dipukul, Muhammadiyah tetap merangkul,” ucapnya.
Sikap itu, lanjut Ikhwan, perlu menjadi bagian dari pengelolaan pendidikan. Sekolah Muhammadiyah harus terbuka terhadap kerja sama, menghargai perbedaan, dan terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Menjaga Ruh Persyarikatan dalam AUM Pendidikan
Di akhir pembinaan, Ikhwan kembali mengingatkan profesionalitas di Amal Usaha Muhammadiyah harus berjalan bersama dengan pemahaman dan komitmen terhadap nilai serta tujuan Persyarikatan.
“Bermuhammadiyah itu harus berada di atas bangunan kokoh pemahaman terhadap Persyarikatan,” tegasnya.
Pihaknya berharap, para wakil kepala sekolah mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kepemimpinan sehari-hari.
“Harapannya, sekolah/madrasah Muhammadiyah tidak hanya berkembang secara kelembagaan, tetapi juga tetap memiliki ruh perjuangan dalam menyiapkan generasi masa depan,” tandasnya.





