SLEMAN — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melakukan penataan struktur organisasi dan perubahan nomenklatur secara menyeluruh sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Nomor 13 Tahun 2026.

Penataan tersebut dilakukan untuk menyelaraskan seluruh unit kerja pusat hingga Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah dalam mendukung pengawalan program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, khususnya di bidang pembangunan sumber daya manusia dan kualitas pendidikan.

Arah kebijakan baru itu disampaikan Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) D. I. Yogyakarta, Dr. Adi Wijaya, S.Pd., M.A., saat memberikan materi bertajuk Kebijakan Pemerintah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Materi pembinaan itu disampaikan usai pembukaan Pendidikan Khusus Kepala Sekolah (Diksus Cakep) 2026 yang digelar Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Selasa (28/7).

BACA JUGA Gelar Diksus Cakep 2026, Muhammadiyah DIY Perkuat Kaderisasi Kepala Sekolah/Madrasah se-DIY

Dalam pemaparannya, Adi Wijaya menjelaskan perubahan nomenklatur di lingkungan kementerian membawa penyesuaian fungsi pada sejumlah direktorat jenderal.

Termasuk Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) kini berganti menjadi Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Nonformal (Ditjen PAUD dan Nonformal), sementara rumpun vokasi disesuaikan menjadi Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Ditjen Dikmen dan Diksus).

Sementara untuk peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dikonsolidasikan di bawah Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

“Kemendikdasmen ataupun kementerian lain tujuannya sama, yaitu untuk mengawal Asta Cita Pak Presiden dan Pak Wakil Presiden. Di bawah Kemendikdasmen, ini lebih ke Asta Cita ke-4 dan ke-8. Asta Cita ke-4 terkait memperkuat pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, sains, dan teknologi, yang kemudian diturunkan menjadi 11 program kebijakan,” jelasnya.

11 Program Prioritas dan Tantangan Pembinaan Pendidik

Adi Wijaya menguraikan bahwa 11 program prioritas tersebut meliputi pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun mulai dari jenjang PAUD, penyediaan fasilitas Sekolah Unggul dan Sekolah Rakyat, peningkatan kualifikasi akademik S1/D4 bagi guru yang belum berijazah sarjana, perluasan Pendidikan Profesi Guru (PPG), hingga perbaikan fisik gedung sekolah tidak layak melalui program refurbish.

Di samping itu, kementerian menggalakkan pendekatan pembelajaran Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) yang mengusung prinsip berkesadaran (mindful), menggembirakan (joyful), dan bermakna (meaningful), serta pengenalan materi pengodean (coding) dan kecerdasan buatan (AI).

Menyinggung kondisi pendidik di D.I. Yogyakarta, Adi membeberkan data Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang mencatat terdapat 7.779 sekolah dengan 53.457 guru.

“Jika diakumulasikan bersama kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan lainnya, total populasi PTK di DIY mencapai hampir 70.000 orang,” ungkapnya.

Selaras adanya efisiensi anggaran pada 2026, Adi menyebut BBGTK DIY secara mandiri hanya mampu menjangkau sekitar 3 persen dari total populasi pendidik di DIY dalam memfasilitasi pelatihan tatap muka secara penuh (full budget).

“Kalau semuanya harus mengikuti peningkatan kompetensi di tempat kami menggunakan anggaran APBN murni, kami hanya mampu memfasilitasi sekitar 3 persen di tahun 2026 ini karena ada efisiensi anggaran. Biaya yang dibutuhkan sangat besar, sementara anggaran negara belum mencukupi,” paparnya.

Siasat BBGTK DIY, Program Padat dan Klinik MELITA

Mengatasi keterbatasan tersebut, BBGTK DIY merancang inovasi program agar peningkatan kompetensi tetap menjangkau seluruh guru negeri maupun swasta.

Terobosan utamanya berupa skema Program Padat Baru Maju. Berbeda dari pelatihan konvensional berdurasi 5 hari, skema ini dikemas efisien selama 3 jam tanpa membebankan anggaran besar.

BACA JUGA SMA Muha Salurkan Beasiswa Prestasi Rp119 Juta dan Beri Penghargaan 54 Murid Berprestasi

Selain itu, BBGTK DIY meluncurkan pusat layanan Klinik MELITA (Pusat Klinik Terbaru) sejak bulan Mei. Layanan ini menyusun materi pelatihan secara adaptif berdasarkan analisis instrumen kebutuhan riil guru di lapangan (need assessment).

Hingga kini, lanjut Adi, Klinik MELITA telah melayani hampir 2.000 pendidik. BBGTK DIY juga membuka program BKP Mendampingi, di mana tim ahli BBGTK siap datang mendampingi Kelompok Kerja Guru (KKG/MGMP) atau menerima kunjungan komunitas belajar ke kantor BBGTK.

“Kami punya banyak strategi, salah satunya Program Padat Baru Maju. Kalau tim pelatihan biasanya 5 hari, kami buat 3 jam tanpa anggaran agar Bapak-Ibu tetap mendapatkan pembaruan materi. Kami juga punya Klinik MELITA yang diluncurkan bulan Mei kemarin, materinya berbasis hasil analisis instrumen kebutuhan riil guru di lapangan, dan saat ini sudah diikuti hampir 2.000 guru,” jelas Adi.

DEBRAK MOBIL, Hidupkan Komunitas Belajar

Pihaknya mendorong para kepala sekolah dan guru Muhammadiyah untuk menghidupkan Komunitas Belajar (Kombel), baik di dalam sekolah maupun antar-sekolah melalui gerakan Dengan Bergerak Bersama Penggerak Komunitas Belajar (DEBRAK MOBIL).

“Melalui program DEBRAK MOBIL, kita dorong Komunitas Belajar berjalan di sekolah dan antar-sekolah. Harapannya tidak ada satu pun guru yang ketinggalan informasi terkini atau pusing sendirian di kelas,” ucap Adi.

Ia menambahkan, kalau pusing, pusing bareng-bareng untuk menyiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas. Jika guru mencoba strategi mengajar tapi muridnya belum bisa, sampaikan ke kolega di komunitas belajar. Kantor BBGTK DIY ini adalah rumah Bapak-Ibu yang kedua atau ketiga.

Di akhir pemaparannya, Adi membagikan pengalamannya saat memutuskan menjadi pendidik, yang dipicu oleh pesan guru agamanya sewaktu SMA bahwa profesi guru merupakan jalan pengabdian yang mulia.

“Ketulusan dan kepedulian terhadap murid adalah inti dari profesi pendidik,” tutupnya.

Adi juga menyampaikan bahwa kegiatan Diksus Cakep 2026 yang digelar Majelis Dikdasmen & PNF PWM DIY merupakan komitmen bersama antara BBGTK DIY untuk terus berkolaborasi dalam meningkatkan mutu kepemimpinan sekolah dan kompetensi guru.