YOGYAKARTA — Kualitas pembelajaran dan layanan pendidikan yang dirasakan langsung oleh peserta didik dan orang tua menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan masyarakat dalam jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Dr. Farid Setiawan, S.Pd., M.Pd.I., Wakil Sekretaris PWM DIY, dalam Pertemuan Bulanan dan Pembinaan Kepala SMA/SMK/MA/SLB Muhammadiyah se-DIY di Aula PWM DIY, Kamis (29/10).
Pomosi melalui media digital maupun kunjungan langsung tetap diperlukan. Namun tetap harus diimbangi dengan kualitas pembelajaran, pelayanan administrasi, dan hubungan baik dengan orang tua.
“Kalau kemudian kita jadikan layanan ini sebagai satu modal utama, itu memang membutuhkan proses yang cukup lama, tetapi dampaknya juga tidak kalah lama,” ujarnya.
Karena itu, sekolah perlu membangun kepercayaan sejak awal. Menurut Farid, ketika masyarakat telah memiliki pengalaman positif, mereka akan dengan sendirinya menyampaikan kepada orang lain.
Budaya Jawa sebagai Modal Sosial
Farid mengajak kepala sekolah/madrasah memanfaatkan nilai-nilai budaya Jawa sebagai modal sosial dalam membangun hubungan dengan masyarakat.
Lima konsep tersebut meliputi getok tular, tepa selira, utang budi, paseduluran, dan ngewongke.
Getok tular menggambarkan penyebaran pengalaman dan informasi dari mulut ke mulut. Dalam konteks sekolah, rekomendasi orang tua yang merasakan langsung kualitas pendidikan dapat menjadi kekuatan promosi yang efektif.
“Billboard, kemudian juga media-media digital, itu sesungguhnya dalam konteks promosi masih kalah ampuh dibandingkan dengan filosofi orang-orang Jawa, yaitu getok tular,” ungkapnya.
Sementara itu, tepa selira mengajarkan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Utang budi berkaitan dengan rasa terima kasih atas kebaikan yang diterima, paseduluran menekankan persaudaraan dan hubungan jangka panjang, sedangkan ngewongke berarti menghargai serta memanusiakan setiap orang.

Dr. Farid Setiawan, S.Pd., M.Pd.I., Wakil Sekretaris PWM DIY, dalam Pertemuan Bulanan dan Pembinaan Kepala SMA,SMK,MA,SLB Muhammadiyah se-DIY di Aula PWM DIY
Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam pelayanan sekolah, terutama ketika membangun komunikasi dengan peserta didik dan orang tua. Sekolah perlu membuat setiap pihak merasa dihargai dan dilibatkan.
“Prestasi itu bukan hanya dari hasil perlombaan saja, menang dan kalah, tetapi bagaimana ketika anak-anak bisa berdiskusi dengan teman-temannya dan mencapai target yang diinginkan,” imbuhnya.
Ia mendorong sekolah mendokumentasikan perjalanan belajar peserta didik, termasuk melalui buku tahunan yang tidak hanya berisi foto, identitas, dan kata-kata motivasi, tetapi juga pengalaman berharga selama bersekolah.
Dokumentasi tersebut dapat menjadi rekam jejak perkembangan anak sekaligus memperkuat hubungan emosional keluarga dengan sekolah.
“Pengalaman-pengalaman unik dan menarik itu kadang hanya dipendam sendiri. Padahal, kalau kita tangkap, kita olah, dan kita sampaikan kepada orang tua, itu menjadi kebanggaan bagi mereka,” tuturnya.
Pelayanan Harus Terstandar
Selain membangun hubungan dengan orang tua, peningkatan kualitas layanan perlu diwujudkan melalui pembenahan sistem administrasi.
“Sering kali orang tua mencari informasi tidak bisa dengan cepat kita berikan. Tidak kemudian dilempar-lempar, coba tanyakan ke sana, sudah ke sana, bisa lagi ke mana,” ujarnya.
Karena itu, sekolah perlu menyusun standar pelayanan berdasarkan tugas pokok dan fungsi setiap bagian. Pembagian tanggung jawab harus jelas agar kebutuhan masyarakat dapat ditangani secara efektif.
Standar pelayanan harus diterapkan secara konsisten, mulai dari petugas keamanan, bagian administrasi, guru, hingga kepala sekolah.
BACA JUGA Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY Dukung Pembinaan Atlet Muda Muhammadiyah
Pada aspek akademik, Farid menegaskan mutu pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan sarana dan prasarana.
Tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar peserta didik merasa sekolah sebagai rumah kedua
“Esensi pendidikan itu sesungguhnya ada pada proses pembelajaran. Karena itu, perubahan bisa dilakukan dari dalam kelas,” katanya.
Lebih lanjut, Farid juga mengingatkan bahwa nama besar Muhammadiyah merupakan modal penting bagi sekolah dan madrasah. Namun, reputasi Persyarikatan harus disertai bukti kualitas pendidikan dan pelayanan di masing-masing satuan pendidikan.
Karena itu, ia mendorong penguatan tiga aspek, yakni komitmen bersama dalam meningkatkan layanan, pengembangan program inovatif dan solutif, serta optimalisasi kolaborasi dan jejaring Persyarikatan untuk mendukung promosi sekolah.
“Setiap agenda yang lakukan harus mempunyai dampak yang bisa dirasakan secara langsung, dalam jangka menengah maupun panjang oleh masyarakat,” tegasnya.





