YOGYAKARTA — Sekolah/madrasah Muhammadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didorong memperluas kerja sama internasional secara terarah untuk mengembangkan pendidikan dan membuka peluang studi lanjutan bagi peserta didik.

Kemitraan dengan lembaga dan perguruan tinggi luar negeri perlu berangkat dari kebutuhan nyata, bukan sekadar membangun citra sekolah.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag., dalam Pertemuan Bulanan dan Pembinaan Kepala SMA/SMK/MA/SLB Muhammadiyah se-DIY di Aula PWM DIY, Kamis (29/10/2026).

BACA JUGA Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY Dukung Pembinaan Atlet Muda Muhammadiyah

Achmad menekankan, kerja sama internasional merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah menjawab berbagai persoalan dan kebutuhan manusia.

Karena itu, sekolah perlu menempatkan kemitraan global sebagai langkah strategis dalam pengembangan pendidikan.

“Kerja sama internasional itu bukan sekadar gagah-gagahan, bukan sekadar branding sekolah,” tegasnya.

Namun, sekolah perlu memastikan kerja sama yang dibangun memiliki tujuan dan manfaat yang jelas. Achmad mengingatkan agar sekolah menyusun tahapan pengembangan kerja sama secara terencana.

“Internasionalisasi bukan semata-mata tentang nama atau pengakuan dari luar negeri, melainkan bagaimana kemitraan tersebut dapat mendukung peningkatan mutu pendidikan dan memperluas kesempatan peserta didik,” papar Achmad.

Persoalan teknis tidak seharusnya menjadi penghambat sejak awal ketika sekolah mulai membangun jejaring dengan pihak luar negeri.

Pertemuan Bulanan dan Pembinaan Kepala SMA,SMK,MA,SLB Muhammadiyah se-DIY di Aula PWM DIY, Kamis (29_10).

Pertemuan Bulanan dan Pembinaan Kepala SMA,SMK,MA,SLB Muhammadiyah se-DIY di Aula PWM DIY, Kamis (29/10).V

Achmad mendorong langkah perluasan kerja sama dilakukan secara lebih strategis dan tidak berhenti pada gagasan tanpa tindak lanjut. Salah satunya dengan mempelajari pengalaman satuan pendidikan lain yang telah lebih dahulu menjalin kemitraan internasional.

“Sekolah/madrasah yang saat ini sudah eksis itu juga tidak ujuk-ujuk begitu saja. Tidak tiba-tiba mencari kerja sama,” ujarnya.

Achmad memahami, proses membangun kemitraan memang membutuhkan persiapan. Sekolah yang belum memiliki kerja sama internasional tetap dapat mulai merancang langkah sesuai kemampuan dan kebutuhan masing-masing.

“Memulai dari gagasan, dari semangat, dari keinginan,” katanya.

Baginya, kebutuhan itu berkaitan dengan perubahan masyarakat yang semakin terbuka dan tidak lagi sepenuhnya dibatasi oleh batas geografis.

Terutama perkembangan informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang turut menuntut pemimpin sekolah/madrasah untuk lebih terbuka, mudah menerima informasi, dan mampu merespons perubahan secara positif.

Dalam paparannya, Achmad mengutip buku Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI karya Yuval Noah Harari yang membahas sejarah jaringan informasi hingga era AI.

BACA JUGA Lima Kepala SMA/SLB Muhammadiyah DIY Dilantik, Ketua PWM Tekankan Lima Kunci Sekolah Unggul

Pihaknya mengaitkan perkembangan tersebut dengan pentingnya kepala sekolah/madrasah memiliki keterbukaan terhadap pengetahuan dan perkembangan global.

Belum lama ini, upaya memperluas jejaring internasional telah dilakukan melalui kunjungan ke China pada September bersama Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhamamdiyah untuk mempelajari sistem pendidikan modern dan menjajaki peluang kerja sama.

Dalam kunjungan itu, salah satu hal yang dibicarakan ialah kemungkinan membuka akses bagi peserta didik sekolah/madrasah Muhammadiyah, khususnya yang memiliki program atau kelas internasional, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi luar negeri.

“Peluang ini masih perlu ditindaklanjuti melalui komunikasi dan pembahasan kerja sama lebih lanjut,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Achmad menyoroti kecenderungan sebagian generasi Z untuk langsung bekerja setelah lulus, yang turut menjadi tantangan bagi sekolah dalam mendorong lulusan melanjutkan pendidikan ke jenjang diploma maupun perguruan tinggi.

Karena itu, perluasan kemitraan diharapkan dapat membuka lebih banyak pilihan bagi peserta didik.

“Sekolah juga perlu tetap memperkuat sistem pengelolaan pendidikan dan mendorong prestasi siswa sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu,” tandasnya.

Dalam kesempatan ini, Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY turut penyerahan Surat Keputusan (SK) pengurus Badan Kerja Sama Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah (BKSKM) Jenjang SMK DIY periode 2026–2028.

Jajaran Pengurus BKSKM SMK DIY periode 2026–2028

Kustejo, S.Pd.I., M.Pd., Kepala SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, ditetapkan sebagai ketua pengurus BKSKM SMK DIY. Selain itu, dilakukan penyerahan SK Komite SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta.

Pertemuan bulanan menjadi ruang koordinasi dan pembinaan bagi kepala SMA/SMK/MA/SLB Muhammadiyah se-DIY. Rangkaian kegiatan dilanjut pembinaan oleh Wakil Sekretaris PWM DIY, Dr. Farid Setiawan, S.Pd., M.Pd.I.