YOGYAKARTA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) resmi melantik lima kepala SMA dan SLB Muhammadiyah masa jabatan 2026–2030, Kamis (22/10).
Pelantikan berlangsung di Aula Utama Lantai 2 Kantor PWM DIY, dilanjutkan dengan pembacaan surat keputusan dan penandatanganan pernyataan janji.
Lima kepala sekolah yang dilantik yakni Sahid Ali, M.Pd., sebagai Kepala SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta; Kamiludin, S.Pd.I., M.Pd., sebagai Kepala SMA Muhammadiyah Pleret; Alip Prasetyo, S.Pd., Gr., sebagai Kepala SMA Muhammadiyah Wates; Siti Alpiyah, S.Ag., M.Pd.I., sebagai Kepala SLB Muhammadiyah Dekso; serta Sumarbini, S.Pd., M.Pd., sebagai Kepala SMA Muhammadiyah Ngawen.
Dalam kesempatan yang sama, PWM DIY memperpanjang masa jabatan tiga kepala SMK Muhammadiyah, yakni Harimawan, S.Pd.T., M.S.I., sebagai Kepala SMK Muhammadiyah 1 Bantul; Sabarudin Ahmad, S.Pd.T., sebagai Kepala SMK Muhammadiyah Imogiri; dan Drs. Wadiyo sebagai Kepala SMK Muhammadiyah 1 Playen.
Pelantikan tersebut disertai pemberhentian Nur Kholifah, S.Pd., dari jabatan Kepala SMA Muhammadiyah Pleret; Barir Fathoni, S.Pd., dari jabatan Kepala SMA Muhammadiyah Wates; serta Arifin, S.Pd., dari jabatan Kepala SLB Muhammadiyah Dekso.

Ketua dan Wakil Sekretaris PWM DIY foto bersama kepala SMA/SLB Muhammadiyah DIY masa jabatan 2026–2030, perpanjangan masa jabatan tiga kepala SMK Muhammadiyah, serta pemberhentian tiga kepala sekolah di Aula PWM DIY, Kamis (22/10/2026).
Ketua PWM DIY, Dr. Muh. Ikhwan Ahada, M.A., berpesan agar kepala sekolah membangun lembaga pendidikan yang unggul, adaptif terhadap perubahan, serta menjadikan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (ISMUBA) sebagai landasan penyelenggaraan pendidikan.
Dalam amanahnya, Ikhwan menyoroti tantangan pendidikan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan perilaku generasi muda.
Mulai dari maraknya ujaran kebencian, hoaks, fitnah, dan komentar provokatif di ruang digital menjadi perhatian penting bagi dunia pendidikan, terutama dalam membentuk karakter peserta didik.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan nilai agama agar peserta didik tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga mampu mengendalikan diri dan menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kata Ikhwan, sekolah/madrasah Muhammadiyah harus menjadi ruang bagi peserta didik untuk menemukan jati diri, mengenal ajaran agama, serta menjadikan Allah, Rasulullah, dan Al-Qur’an sebagai bagian dari orientasi hidup.
“Di antara sekian pilar peradaban, pendidikan menempati posisi paling strategis,” tegasnya.
Lima Kunci Membangun Sekolah Unggul
Ikhwan menyampaikan lima hal yang perlu menjadi perhatian kepala sekolah dalam mengembangkan lembaga pendidikan Muhammadiyah. Yakni perencanaan jangka panjang, perhatian terhadap warga sekolah, keteladanan, budaya mutu, dan penguatan ISMUBA.

Ketua PWM DIY, Dr. Muh. Ikhwan Ahada, M.A.
Pertama, memiliki gagasan dan peta jalan pengembangan sekolah.
Kepala sekolah diharapkan memiliki gagasan yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan arah perkembangan sekolah dalam jangka panjang.
Peta jalan tersebut menjadi acuan dalam menyusun rencana kegiatan dan anggaran sekolah (RKAS), sekaligus membantu menerjemahkan cita-cita lembaga ke dalam program yang terarah.
“Kepala sekolah harus punya gagasan ide cemerlang, tiga, empat, lima langkah ke depan,” pesannya.
Kedua, memperhatikan kesejahteraan dan kondisi warga sekolah. Ikhwan menjelaskan, pengembangan sekolah tidak dapat dilepaskan dari perhatian terhadap guru dan tenaga kependidikan.
Perhatian tersebut bukan hanya menyangkut kesejahteraan ekonomi, melainkan juga aspek psikologis, spiritual, dan kesehatan.
Ia berharap, kepala sekolah mampu membangun komunikasi yang baik, mengedepankan pendekatan persuasif, serta menciptakan suasana kerja yang rukun dan terbuka.
Sehingga, warga sekolah dapat bekerja dalam lingkungan yang nyaman dan memiliki rasa kebersamaan.
“Kepemimpinan yang transformatif, bukan otoritatif,” tegasnya.
Ketiga, memperkuat hidden curriculum melalui keteladanan. Ikhwan mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran formal.
Nilai-nilai yang diajarkan perlu hadir dalam suasana kehidupan sekolah dan tercermin melalui perilaku kepala sekolah, guru, serta tenaga kependidikan.
BACA JUGA 27 Wakil Kepala SMA/SMK Muhammadiyah DIY Dilantik, Diminta Perkuat Kolaborasi dan Aksi
Dalam pemaparannya, Hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi merupakan nilai dan kebiasaan yang dipelajari peserta didik melalui keteladanan serta interaksi sehari-hari.
Sekolah perlu membangun lingkungan yang mencerminkan kehidupan keluarga yang harmonis, sehingga peserta didik merasakan langsung nilai kedisiplinan, kepedulian, dan kebaikan.
“Dengan begitu, pendidikan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga membentuk kebiasaan dan karakter melalui contoh nyata,” ujarnya.
Keempat, membangun budaya mutu dan tata kelola yang baik. Ikhwan menekankan pentingnya kedisiplinan, ketertiban, keterbukaan, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan sekolah.
Menurutnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh gagasan yang baik, tetapi juga oleh kemampuan mengelola dan menjalankan program secara tertib.
“Budaya mutu perlu dijaga secara konsisten agar program yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik,” tutur Ikhwan.
Kelima, menjadikan ISMUBA sebagai landasan pendidikan. Ikhwan menegaskan bahwa Al-Islam dan Kemuhammadiyahan tidak boleh diposisikan sekadar sebagai mata pelajaran pelengkap.
Nilai-nilai ISMUBA harus menjadi landasan gerak, kegiatan, dan program sekolah serta tercermin dalam perilaku seluruh warga sekolah.
BACA JUGA Workshop Penyusunan Kisi dan Soal ASAS ISMUBA 2026/2027, Dorong Pembelajaran Lebih Kontekstual
Ikhwan menyebut, penguatan ISMUBA menjadi penting untuk menjawab persoalan pendidikan yang tidak cukup diselesaikan melalui kecakapan akademik. Pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan pemahaman dan pengamalan agama.
“ISMUBA ini harus menjadi roh, menjadi landasan gerak kita, untuk kita jadikan sebagai pondasi,” pesannya.
Melalui penguatan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami ajaran agama di ruang kelas, tetapi juga mampu menerapkannya dalam hubungan dengan orang tua, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.
Mendorong Sekolah Terus Beradaptasi
Lebih lanjut, Ikhwan juga berpesan agar kepala sekolah tidak berpuas diri dengan capaian yang telah diraih. Sekolah perlu terus memperbarui diri, terbuka terhadap perubahan, membangun kerja sama dan kolaborasi untuk memaksimalkan potensi masing-masing.
“Sekuat apa pun, kalau kita tidak pernah ada update, tidak pernah inklusif, terbuka, tidak pernah bersyarikat, kerja sama, kolaborasi, bersinergi, maka tinggal tunggu saatnya. Apapun kondisi kita sekarang ini harus diperjuangkan dengan maksimal,” ungkapnya.
Ikhwan menyadari bahwa memimpin sekolah merupakan amanah yang tidak ringan. Kepala sekolah harus mampu mengelola lembaga sekaligus menjawab harapan keluarga yang mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada sekolah Muhammadiyah.
Keberhasilan pendidikan, kata Ikwhan, tidak cukup diukur dari kelulusan atau kemampuan akademik. Peserta didik juga perlu memiliki karakter, memahami agama, menghormati orang tua, dan menjadikan Rasulullah sebagai teladan.
Melalui arahan tersebut, PWM DIY mendorong kepala sekolah membangun lembaga pendidikan yang terus berkembang, serta menjadikan nilai-nilai Muhammadiyah sebagai landasan pendidikan. Ikhtiar itu diharapkan melahirkan generasi yang mampu menjawab harapan keluarga, bangsa, dan Persyarikatan serta menghadapi Indonesia Emas.





