YOGYAKARTA — Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen & PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) D.I. Yogyakarta menggelar Workshop Penulisan Kisi-Kisi dan Soal Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS) Pendidikan ISMUBA jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK/MA Muhammadiyah se-DI Yogyakarta Tahun Pelajaran 2026/2027. Kegiatan berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 di SM Tower Malioboro, Yogyakarta.

Selama tiga hari, peserta mengikuti penyusunan kisi-kisi, penulisan soal, serta pendampingan oleh tim editor. Materi yang disusun meliputi Pendidikan Fikih, Fikih Madrasah, Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Tarikh, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab.

Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, dalam arahannya menekankan pentingnya pembelajaran ISMUBA yang tidak berhenti pada penyampaian materi secara tekstual. Guru perlu mengaitkan materi dengan kehidupan saat ini, kebutuhan masa depan, serta tantangan yang akan dihadapi peserta didik.

“Pendidikan ISMUBA semestinya tidak hanya berhenti pada penyampaian materi secara tekstual, tetapi harus dikontekstualisasikan dengan kehidupan saat ini, kebutuhan masa depan, dan tantangan yang akan dihadapi anak-anak kita,” pesannya.

Menurut Achmad, keterbukaan dunia digital memberikan akses luas kepada peserta didik untuk memperoleh informasi. Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan yang perlu menjadi perhatian dalam proses pendidikan. Karena itu, pembelajaran ISMUBA perlu membekali siswa dengan pemahaman nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

BACA JUGA Terima Hibah Truk Hino 300 Series, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta Perkuat Link and Match dengan Industri

Ia juga menekankan pentingnya penguatan implementasi ISMUBA di sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Pelaksanaannya perlu tercermin dalam proses pembelajaran, budaya pembiasaan, hingga kebijakan sekolah. Dengan demikian, ISMUBA tidak sekadar menjadi pemenuhan kurikulum, tetapi menjadi bagian dari pembentukan karakter dan penguatan ideologi Muhammadiyah.

Pada aspek asesmen, penyusunan soal perlu memperhatikan kemampuan berpikir analitis siswa. Soal pilihan ganda, misalnya, hendaknya tidak mudah dijawab hanya dengan menebak pilihan yang tampak paling benar secara normatif. Pilihan jawaban perlu disusun secara cermat agar siswa benar-benar menggunakan penalaran dalam menentukan jawaban.

BACA JUGA PWM DIY Dorong Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Percepat Migrasi e-KTAM

Sementara itu, Sekretaris Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, Fathur Rahman, dalam penutupan kegiatan mengingatkan bahwa keberhasilan workshop tidak cukup diukur dari tersusunnya kisi-kisi dan soal ASAS. Peningkatan kualitas instrumen evaluasi harus diikuti perbaikan praktik pembelajaran di kelas.

“Kita tidak bisa melihat kegiatan ISMUBA ini hanya berujung pada tagihan berupa soal dan pertanyaan. Lebih dari itu, pembelajaran ISMUBA juga diharapkan meningkat kualitasnya secara signifikan,” ujarnya.

Fathur berharap guru ISMUBA dapat menjadi pelopor dalam peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dan madrasah masing-masing. Menurutnya, guru yang terlibat dalam penyusunan dan penelaahan soal memiliki kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kompetensi dalam merancang pembelajaran dan asesmen.

Melalui workshop ini, Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY berharap tersusun perangkat ASAS ISMUBA yang bermutu dan dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-DI Yogyakarta. Upaya tersebut sekaligus memperkuat peran ISMUBA dalam membentuk peserta didik yang memiliki pemahaman keislaman, karakter, dan wawasan yang relevan dengan perkembangan zaman.